Berdasarkan mitologi, Tirtha Empul diciptakan oleh Dewa Indra ketika berperang melawan raja Maya Denawa, seorang raja sakti yang memiliki ilmu maya yang bisa menghilang. Karena memiliki kesaktian itu, maka raja Maya Denawa menjadi sangat sombong dan dirinya merasa menjadi Tuhan. Raja Maya Denawa menciptakan kolam yang berisi air racun sehingga banyak rakyat yang meninggal karena meminum air racun tersebut. Melihat kejadian itu, akhirnya Dewa Indra turun ke bumi untuk menolong dan menyelamatkan rakyat serta memerangi raja Maya Denawa. Dalam pelariannya, raja tersebut menggunakan ilmu mayanya sambil berjalan miring untuk menghindari jejak dan mengelabui musuh yang mengejarnya. Dari tapaknya yang miring inilah maka daerah di mana Tirtha Empul berada disebut desa Tampaksiring. Akhirnya Dewa Indra berhasil mengalahkan raja Maya Denawa dan untuk menghidupkan rakyat yang meninggal maka Dewa Indra menggunakan keris saktinya menancapkan ke tanah yang kemudian keluar air suci (empu), yang digunakan sebagai obat penawar untuk rakyat yang meninggal itu. Atas kemenangan tersebut, masyarakat merayakan sebagai hari kemenangan Dharma yang disebut Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Buda Kliwon Dunggulan.
Dalam sebuah prasasti yang saat ini masih disimpan di Pura Sakenan, desa Manukaya sekitar 3 km ke utara dari Tirtha Empul, nama Tirtha Empul berasal dari kata Tirtha ri air Hampul yang lama kelamaan berubah menjadi Tirtha Hampul dan akhirnya menjadi Tirtha Empul yang mempunyai arti "patirthaan yang airnya mengepul" atau "kolam suci yang airnya mengepul". Pada tahun 960 masehi (882 Saka) mata air dan tempat pemujaan tersebut kemudian ditata menjadi kolam yang disucikan oleh raja Indra Jaya Singgha Warmadewa dengan nama Tirtha ri air hampul. Kolam-kolam yang ada di dalam pura Tirtha Empul di bagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelompok lima (di sebelah timur) adalah untuk mengambil air suci, oleh karena itu terdapat sebuah patung Betara Gangga sebagai simbolis air suci sungai Gangga. Kelompok delapan yang berada di sebelah barat kelompok lima, dibagi menjadi kelompok lima dan kelompok tiga dengan sebuah sekat. Kelompok lima berfungsi sebagai pengelebur gering dan kelompok tiga berfungsi sebagai upadrawaning cor. Kelompok tiga belas yang berada paling barat juga dibedakan fungsinya, yaitu nomor satu dan dua dari timur sebagai toya pengentas. Nomor tiga dari timur sebagai pembersih bagi roh orang yang sudah meninggal, nomor tiga belas dari timur merupakan tempat penyucian Bhatara Bayung. Dan sisa yang lainnya berfungsi sebagai melukat yaitu untuk menyucikan jasmani dan rohani. Kelompok lima bagian sebelah barat tembok yang menghadap ke barat adalah tempat penglebur wong camar, artinya diperuntukkan wanita yang sudah seharusnya menstruasi tetapi belum ada. Di dalam pura Tirtha Empul terdapat bangunan pemujaan terhadap Dewa Indra, (dewa perang atau dewa hujan) yang disebut tepasana.
Di samping tepasana terdapat peninggalan purbakala berupa lingga yoni yang merupakan pemujaan Dewa Siwa dengan Dewi Parwati atau lambang dari Purusa dan Pradana sebagai lambang kesuburan. Pada bagian sebelahnya diperkirakan sebagai arca Singga yaitu kendaraan Dewi Parwati dalam aspek kroda (durga), oleh karena itu Dewi Parwati disebut juga Dewi Singga Wahini. Pura Tirtha Empul merupakan tempat pemujaan Dewa Indra dan strukturnya sama dengan pura-pura lain yang juga terbagi menjadi tri mandala yaitu utamaning mandala, madyaning mandala dan nistaning mandala.
Source : http://wisatadewata.com
